Langsung ke konten utama

Kiprah Busana Muslim

Kiprah Busana Muslim Femina


Perkembangan industri busana muslim di Indonesia yang mulai menggeliat di Pulau Jawa awal tahun 1990-an,  makin terasa booming-nya di pekan mode Jakarta tahun ini.

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, beberapa waktu lalu menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, mempunyai nilai ekonomis yang tinggi bagi perkembangan busana muslim. Ditegaskan oleh Dirjen IKM Kemenperin, Euis Saedah, “Busana muslim tidak hanya dianggap sebagai alat penyempurna untuk menutup aurat, namun juga sebagai simbol identitas kultural dan lebih jauh dapat mengubah tren dalam berbusana.

” Penyesuaian gaya hidup modern dengan tetap mempertahankan tradisi Islam adalah salah satu faktor pemicu tumbuhnya perdagangan busana muslim di seluruh dunia, khususnya di Eropa. Dalam rilis dari Kemenperin pula, tahun 2012 di Inggris terdapat sekitar 1,5 juta umat muslim dan diperkirakan transaksi busana muslim mencapai  150 juta dolar AS dalam setahun. Sementara, dengan total umat Islam sebanyak 16 juta jiwa, omzet perdagangan busana muslim di Eropa mencapai 1,5 miliar dolar AS per tahun.

Jelas, angka yang tidak sedikit ini membuat para pelaku usaha industri busana muslim dituntut untuk lebih kreatif guna memenangkan kompetisi pasar, bukan hanya untuk konsumen lokal, tapi juga internasional. Hal ini juga  sesuai dengan tema Jakarta Fashion Week (JFW) 2013, yaitu Indonesia Today, The World Tomorrow, di mana platform mode pertama di Indonesia ini turut mendukung visi Indonesia:  Menuju Kiblat Fashion Muslim Dunia Tahun 2020. Untuk itu, tak mengherankan jika pada pekan mode ini, slot untuk pergelaran busana muslim pun bertambah. “Ini menandakan animo masyarakat yang besar terhadap perkembangan busana muslim,” ujar Svida Alisjahbana, CEO Femina Group, sekaligus Ketua Umum JFW.

Busana Muslim Tahun Ini

Asal tahu saja, sejak awal pekan mode tahun 2008, perhelatan busana muslim telah menjadi referensi utama bukan hanya bagi pengguna lokal, tapi juga secara global. Tahun ini, JFW menggandeng BRI untuk berpartisipasi dalam salah satu slot khusus busana muslim bertema  Luxurious Modesty, dengan para desainer Irna Mutiara, Monika Jufry, Elements by Ronald V.Gaghana, dan Itang Yunasz.

Menurut Itang Yunasz, yang menjadi pemenang kategori individu Pia Alisjahbana Award tahun ini, wanita muslim di Indonesia termasuk beruntung karena di negara-negara Arab, pilihan busana muslim yang bisa ditemukan hanya abaya. “Bahkan, Malaysia, Dubai, dan Uni Emirat Arab juga mengakui bahwa Indonesia-lah yang punya fashion muslim,” kata perancang senior yang sudah membawa rancangan busananya hingga ke Amerika Serikat ini.

Perhelatan busana muslim pada JFW 2013 ini menampilkan rancangan yang tampak mewah, elegan, serta santun sesuai dengan koridor Islam. Kemewahan tampak pada bahan-bahan yang digunakan oleh para desainer, seperti Itang dengan chiffon dan sateensilk, Irna dengan sutra crepe, bordir Tasikmalaya  serta Sumatra Barat, dan Elements dengan materi tulle dan bordir dari Indonesia, Maroko, serta Cina.

Desainer lain seperti Dian Pelangi, Ria Miranda, Ida Royani, Merry Pramono, Defrico Audy, dan Jeny Tjahyawati, juga turut mempersembahkan koleksinya bagi para wanita aktif dengan kehebatan styling yang memadukan unsur-unsur busana muslim. Ya, sebut saja kaftan, abaya, blus, rok panjang, celana panjang, kerudung, penutup kepala seperti turban, hingga vest, blazer panjang, dan coat sepanjang mata kaki.

Tak berhenti sampai di situ, hal ini masih didominasi dengan aksesori modern, seperti sepatu platform dan kalung statement yang berkilau. Menyajikan hampir keseluruhan palet warna, dari hitam, putih, hingga warna cerah dan pastel. Kemegahan busana muslim dari tiap desainer juga kian tampak melalui penggunaan materi tradisional yang bukan hanya diterapkan pada busana, tapi juga menjadi bagian dari penutup kepala atau hijab, juga turban. Tak percaya? Coba lirik deretan hijab menarik dari tiap desainer berikut ini sebagai presentasi yang sungguh inspiratif.(f)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

India’s New Balance of Payments for the First Quarter of Fiscal Year 2011-2012

India Data Talk: On September 30, 2011, the Reserve Bank of India (RBI) published India’s balance of payments (BoP) using a new presentation format. The format improves the presentation of India’s BoP by aligning with international best practices. A major part of the BoP report has been compiled based on the IMF’s latest BoP Manual (BPM6) starting from the first quarter of the fiscal year 2010-2011 (April-June 2010), officially replacing the previous BPM5 format. India’s Balance of Payments (BPM6) Chart provided by: CEIC Data During the quarter of April-June 2011, the trade deficit rose by 9.7% to USD 35.4 billion, despite a sharp increase in exports relative to imports. Export goods recorded growth of 47.1% year-on-year (YoY), and imports registered a 33.2% YoY growth during the quarter. In absolute terms, the trade deficit increased by USD 3.1 billion from USD 32.3 billion in the corresponding quarter previous year. Meanwhile, net exports of services rose by 19.1...

laut pada gambar di bawah ini adalah irisan-irisan dari ikan salmon